Cucu Mbah Dahlan Harus Punya Mimpi

Ada Simpul yang Teramat Kuat
Mengawali dengan firman Allah dalam surat Al Maa’un. Surat tersebut laksana sebuah karang yang kokoh meski dihantam gulungan ombak sekuat apapun, bagi Mbah Dahlan.

Tahukah engkau yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. Yaitu orangbyang lalai akan sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.
(Al Maa’un : 1-7)

Firman Allah itu begitu menghujam dalam sanubari Mbah Dahlan, yang pasti kekuatan imannyalah mampu menjadikan firman Allah itu sebagai trampolin yang mengkalilipatkan lompatannya ke udara. Seperti halnya Azzam dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih yang senantiasa rindu pada ibundanya, sebait puisi ia gubah untuk mengingat pesan ibunya. Terus dan terus ia baca dan ingat dalam kondisi yang tak terkira perihnya.

Ibu, aku mencintaimu.
Seperti laut mencintai airnya.
Tak mau kurang selamanya
(Azzam buat Ibunya)

Atau Zaenudin kepada Hayati dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wick.

Jangan pernah bersedih, jangan pernah putus asa.
Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis,
bukan membuat putus asa.
Tetapi cinta itu menguatkan hati,
menghidupkan pengharapan.

Ada simpul yang teramat kuat, antara Sang Khaliq dan makhluk. Ia berwujud firman dalam Al Quran dan sunah dalam tauladan Rasulullah. Mbah Dahlan kuat karena iman kepada Allah yang menghujam dalam hati.

Mbah Dahlan yang Imaginer
Beliau adalah pemimpi, memiliki kemampuan menulis harapan di masa yang belum ketemu hulu hilirnya. Orang Jawa dahulu pernah menyatakan bahwa akan ada nener (anak ikan) yang makan manggar (bunga kelapa). Sekarang terbukti ada, setelah suatu daerah pepohonan kelapa menjadi bendungan atau waduk penyimpan air. Atau, ada grobag besi (Kendaraan dari besi) jalan di langit. Sekarang kita bisa melihatnya, pesawat terbang yang dengan cepatnya melompat di langit yang tinggi dan luas itu.

Entah apa yang membuat Mbah Dahlan di tahun 1923 berucap bahwa kita akan membuat hospital, rumah miskin dan darul aytam. Apa yang difikirkan beliau kala itu. Dan mungkin, beliau juga tidak tahu bahwa angannya akan terlaksana. Saya jadi teringat guru saya, Kakanda Mustain Arif. Hampir sama dengan karakter Mbah Dahlan yang senang bermimpi. Beliau ingin buat Rumah Sakit, Sekolah Dasar, Rumah Tahfidz, Distributor Barang untuk TokoMu dan masih banyak lagi. Beliau tak tahu, apakah itu akan terwujud atau tidak. Dalam yakinnya, hal ihwal adalah berikhtiar kepada Allah, menjadi taqwa di hadapan Allah, maka Allah akan memudahkan, menyembulkan jalan keluar atas mimpi-mimpi yang tergantung di Arsynya Allah.

Lima belas tahun setelah tahun 1923, yaitu tahun 1938, telah berdiri RS PKO Muhammadiyah di Jalan Ngabean, Panti Asuhan Putra di Lowanu, dan Panti Asuhan Putri di Jalan Ngabean, serta Rumah Miskin di Serangan. Walau demikian, saat beliau sakit terakhir kalinya terpaksa harus dirawat di Rumah Sakit Katolik. Alhamdulillah, saat meninggal dunia beliau ada di rumahnya sendiri. Dalam hari-harinya yang terakhir, beliau masih berangan, “Apakah kita orang islam tidak dapat membuat rumah sakit sebesar ini?”.

Kita belajar dari Mbah Dahlan bahwa hidup harus punya mimpi, lempeng iman, dan kuat ikhtiar.

SMK Muhammadiyah Purwodadi Grobogan 2018