Ramalan Cak Nun 2012 tentang Serangan Israel dan AS ke Iran Kini Terbukti Viral Kembali

Cak Nun, atau Emha Ainun Nadjib, kembali menjadi topik hangat di kalangan publik. Sebuah video ceramahnya yang diunggah pada tahun 2012 di Masjid Raya Klaten tiba-tiba mencuri perhatian di media sosial. Hal ini terjadi karena isi ceramah tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi geopolitik saat ini, terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat.
Dalam video yang banyak dibagikan di platform seperti Instagram dan TikTok, Cak Nun terlihat menjelaskan peta konflik yang melibatkan Timur Tengah. Dalam ceramahnya, prediksi yang sebelumnya mungkin terdengar seperti sebuah angan-angan, kini dianggap sebagai sebuah kenyataan yang sedang berlangsung.
“Suatu ketika, Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika, dan Arab Saudi dipastikan akan berdiri di sisi Israel,” demikian pernyataan Cak Nun yang diambil dari akun Instagram @lambe_turah pada hari Senin, 2 Maret 2026.
“Pertanyaannya untuk Indonesia, kita akan mendukung siapa? Apakah Iran atau Israel? Kita mungkin akan terjebak dalam perdebatan, dengan sebagian mendukung Iran dan sebagian lagi mendukung Israel, atau bahkan tidak mendukung siapapun karena kebingungan,” tambahnya.
Pernyataan tersebut kembali mengemuka setelah terjadinya konflik besar antara Iran dan Israel yang dimulai pada tahun 2025 dan masih berlanjut hingga awal tahun 2026. Banyak yang mulai mengaitkan ucapan Cak Nun dengan situasi yang kini tengah berlangsung.
Dalam ceramahnya di Klaten, Cak Nun tidak hanya membahas potensi terjadinya perang fisik, tetapi juga dampak sosial dan psikologis yang mungkin muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap provokasi, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri.
“Klaten perlu bersiap menghadapi provokasi dari luar serta kebodohan yang mungkin muncul dari dalam,” ujarnya dengan tegas.
Lebih lanjut, Cak Nun juga menyinggung mengenai strategi geopolitik yang ia nilai tidak hanya berfokus pada aspek militer, tetapi juga mencakup dimensi keagamaan dan dampak psikologis terhadap umat.
“Israel juga melakukan provokasi yang cukup signifikan di Arab Saudi dengan memperkuat paham-paham yang berpotensi menguasai Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Tujuannya jelas: memutus hubungan batin umat Islam dengan Rasulullah SAW,” jelasnya.
“Ini berarti kita tidak boleh merasa dekat dengan Rasulullah. Ketika Anda berada di Raudhah, Anda tidak diperbolehkan untuk menyentuh dinding makam beliau dan lain sebagainya. Intinya, strategi Amerika dan Israel adalah untuk memutuskan hubungan emosional antara umat dengan Rasulullah. Jadi, tingkat provokasi ini mencakup segala bentuk, dari adu domba fisik hingga aspek psikologis dan spiritual, dan ini adalah hal yang serius,” tuturnya lebih lanjut.
➡️ Baca Juga: Pataka Divhumas Polri ‘Sahityadharma Narawata’
➡️ Baca Juga: Pelaksanaan SPMB Berbasis Karakter di Kota Padang


