Tok! The Fed Tahan Suku Bunga 3,5 Persen, Arah Ekonomi AS Abu-Abu Efek Perang Iran

— Paragraf 1 —
Jakarta, VIVA – Bank sentral Amerika Serika (AS), Federal Reserve (The Fed), kembali menahan suku bunga acuan di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya perang Iran. Lonjakan harga minyak dunia sejak konflik pecah di Timur Tengah mendorong risiko inflasi, membuat otoritas moneter memilih bersikap hati-hati.
— Paragraf 2 —
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen yang berlakusejak bulan Desember 2025. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar, meski di satu sisi mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk memangkas biaya pinjaman
— Paragraf 3 —
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan arah kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi. Ia mengatakan, dampak perang Iran terhadap inflasi AS masih sulit diprediksi.
— Paragraf 4 —
“Kami tidak tahu apa dampak (perang Iran) nanti dan sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu,” ujar Powell dikutip dari BBC, Jumat , 20 Maret 2026.
— Paragraf 6 —
Powell menjelaskan, pasar mengalami oil shock yaitu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi menyebabkan inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek. Di mana harga minyak dunia naik ke level tertinggi sejak tahun 2024.
— Paragraf 7 —
Kenaikan harga energi menyebabkan perubahan terhadap proyeksi inflasi AS. Data terbaru menunjukkan inflasi AS diperkirakan mencapai 2,7 persen pada akhir 2026 atau naik dari proyeksi sebelumnya 2,4 persen.
— Paragraf 8 —
Di sisi lain, kondisi ekonomi AS menunjukkan sinyal beragam. The Fed biasanya menurunkan suku bunga saat pengangguran meningkat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun kali ini, bank sentral menghadapi dilema antara inflasi yang kembali naik dan pasar tenaga kerja yang relatif stabil.
— Paragraf 9 —
Para pejabat The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 2,4 persen sedikit lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Sementara tingkat pengangguran diprediksi tetap di level 4,4 persen.
— Paragraf 10 —
Powell juga menyoroti kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang dinilai turut memengaruhi pasar tenaga kerja. Menurutnya, pembatasan imigrasi memperlambat pertumbuhan populasi dan mengurangi jumlah angkatan kerja sehingga perusahaan tidak perlu mempekerjakan banyak orang untuk menjaga angka pengangguran tetap rendah.
— Paragraf 11 —
“Ini seimbang, tetapi terasa ada risiko penurunan. Bukan keseimbangan yang benar-benar nyaman,” kata Powell.
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Perempuan untuk Membangun Jaringan Profesional yang Kuat dan Berpengaruh
➡️ Baca Juga: Jude Bellingham Mempertimbangkan Pindah ke Manchester United untuk Karier yang Lebih Cemerlang




