Filipina Tegaskan KTT ke-48 ASEAN Akan Tetap Berlangsung dengan Format Sederhana

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memastikan bahwa KTT ke-48 ASEAN akan dilaksanakan di Cebu pada tanggal 8-9 Mei 2026. Meskipun demikian, penyelenggaraannya akan mengalami penyederhanaan yang signifikan, mengingat adanya ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada wartawan di Kota Silang, Provinsi Cavite, Jumat lalu, Marcos menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan konsultasi dengan para pemimpin negara-negara di Asia Tenggara.
“Kami telah menanyakan kepada mitra kami di sepuluh negara anggota ASEAN lainnya, dan pertanyaannya sangat jelas: Apakah anda ingin menunda KTT ASEAN ini mengingat situasi krisis minyak dan perang di Timur Tengah?” ungkap Presiden Filipina.
Marcos menambahkan bahwa hasil mufakat yang dicapai menunjukkan bahwa saat ini, langkah yang perlu diambil adalah untuk mengoordinasikan upaya bersama. “Oleh karena itu, kami akan melanjutkan penyelenggaraan KTT ASEAN,” tegasnya.
Namun, ia menyebutkan bahwa KTT ke-48 ASEAN ini akan diadakan dengan cara yang “sangat sederhana”, dengan fokus pada tiga isu utama: minyak, pangan, dan tenaga kerja migran.
Menurut Presiden, KTT mendatang ini akan menjadi forum penting bagi para pemimpin ASEAN untuk menentukan langkah-langkah yang bisa diambil di masa depan, bagaimana ASEAN saling mendukung, dan bagaimana sikap ASEAN terhadap dinamika yang sedang terjadi saat ini.
“Kita akan membahas tiga isu utama ini—terkait pasokan minyak dan produk minyak, pasokan pangan serta harga pangan, dan pekerja migran,” jelasnya.
Lebih lanjut, KTT ke-49 ASEAN yang direncanakan berlangsung di Kota Pasay pada 10-12 November 2026 “secara tentatif” akan tetap dilanjutkan, mengingat agenda ini akan dihadiri oleh pemimpin-pemimpin dunia.
Sebagai negara pemegang keketuaan ASEAN, Filipina berencana untuk menyelenggarakan hingga 650 rapat tingkat menteri dan pejabat senior selama tahun ini.
Sementara itu, pimpinan Senat Filipina sempat menyatakan dukungannya terhadap kemungkinan penundaan KTT ASEAN tahun ini, yang disebabkan oleh tekanan ekonomi akibat perang di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak yang signifikan.
Usulan penundaan ini, jika benar-benar dilaksanakan, berpotensi menghemat anggaran lebih dari 17 miliar peso (sekitar Rp4,7 triliun).
Pimpinan Senat juga menyarankan agar anggaran yang awalnya dialokasikan untuk penyelenggaraan KTT ASEAN dialihkan untuk mengatasi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik di Timur Tengah.
➡️ Baca Juga: Komputasi Kuantum: Teknologi Masa Depan yang Mendekat: Apa itu?
➡️ Baca Juga: Begini Kondisi Bocah Perempuan 6 Tahun yang Tewas Bersandar di Bekasi




