PBNU Menegaskan Konflik Kawasan Tidak Berkaitan dengan Pertentangan Antarmazhab

Jakarta – Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sebaiknya dipandang sebagai masalah politik dan perebutan kekuasaan, dan tidak perlu dihubungkan dengan pertentangan antarmazhab yang dapat memecah belah umat Islam. Pernyataan ini disampaikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam menanggapi konflik yang melibatkan gerilyawan Houthi dan Arab Saudi.
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, menegaskan pentingnya menjaga kerukunan antarumat Islam. Ia mengingatkan agar perbedaan mazhab tidak dijadikan alasan untuk menumbuhkan kebencian, terutama dalam konteks konflik politik yang ada di Timur Tengah.
Gus Kikin juga mengajak seluruh anggota Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah. Ia menekankan agar mereka tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang bersifat sektarian dan selalu mengedepankan nilai persaudaraan dan perdamaian.
Menurutnya, Islam sangat menghargai keselamatan jiwa manusia sebagai nilai yang mulia. Menjaga kehidupan manusia, atau yang dikenal dengan istilah hifzh an-nafs, merupakan salah satu tujuan utama dalam syariat Islam. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kepentingan politik atau kekuasaan untuk mengabaikan keselamatan warga sipil.
Menyikapi serangan terhadap instalasi strategis di Arab Saudi, Gus Kikin menekankan pentingnya menjaga keamanan Makkah dan Madinah. Ia menegaskan bahwa kedua Tanah Suci tersebut harus dilindungi dari segala bentuk ancaman kekerasan, serta keselamatan para jemaah harus menjadi perhatian utama seluruh umat Islam.
Di sisi lain, Gus Kikin juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap penderitaan rakyat Yaman akibat konflik yang berkepanjangan. PBNU mendesak agar akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sipil dan pengungsi dapat dibuka seluas-luasnya tanpa adanya hambatan.
Ia menegaskan bahwa perang bukanlah solusi untuk mengatasi perbedaan yang ada. Semua pihak diminta untuk menahan diri, menghentikan serangan, menghormati hukum humaniter internasional, dan kembali ke meja perundingan demi mencapai kesepakatan yang damai.
PBNU juga mendorong keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan negara-negara di kawasan untuk mengambil langkah-langkah nyata dalam meredakan ketegangan serta membuka jalur penyelesaian konflik melalui cara-cara diplomasi.
➡️ Baca Juga: Prabowo Menargetkan Swasembada Protein untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional
➡️ Baca Juga: Prabowo Sebut Nama Petani Ngawi Joko Purnomo, Siapa Sosoknya?




