pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
bisnis

Regulator dan Investor Harus Sinergi untuk Meningkatkan Tata Kelola Ekosistem Startup Nasional

Regulator dan investor perlu melakukan langkah konkret untuk meningkatkan tata kelola ekosistem startup nasional, bukan sekadar berjanji untuk menyelesaikan audit. Langkah ini sangat penting agar dapat memperkuat kepercayaan publik serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi pengembangan startup di Indonesia.

M. Sarwani, seorang pengamat keuangan, menyatakan bahwa serangkaian masalah seperti pencabutan izin dan sengketa hukum yang melibatkan startup, termasuk TaniFund, Investree, dan KoinWorks, menunjukkan adanya kelemahan dalam pengawasan proaktif. Investor sebagai pihak yang berperan penting dalam pengawasan awal harus lebih aktif dalam memantau dan menangani permasalahan yang muncul.

Dia menggarisbawahi bahwa penyelesaian masalah dalam sebuah startup tidak bisa hanya dilihat dari rekomendasi audit yang diterbitkan, tetapi harus berdasarkan pada tindakan nyata yang dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut. Penting untuk membedakan antara risiko bisnis yang wajar dan risiko yang muncul dari tata kelola yang buruk.

“Risiko tata kelola muncul ketika keputusan penting diambil berdasarkan informasi yang tidak memadai, konflik kepentingan tidak ditangani, hasil audit tidak ditindaklanjuti, atau tanda-tanda peringatan diabaikan. Dalam hal ini, alasan bahwa investasi itu berisiko tidak bisa lagi diterima,” jelas Sarwani dalam pernyataannya pada 10 September 2026.

Sarwani juga menyoroti masalah transparansi dalam penyelesaian tata kelola di beberapa startup, termasuk Ayoconnect. Setelah terungkapnya laporan transaksi mencurigakan sebesar US$5 juta pada tahun 2025, investor menyatakan bahwa mereka sedang melaksanakan lima rekomendasi audit eksternal dengan target penyelesaian pada kuartal pertama 2026.

Namun, ia menekankan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan verifikasi independen yang menunjukkan bahwa rekomendasi tersebut telah diterapkan secara efektif. Hal ini menciptakan kekhawatiran di kalangan publik mengenai komitmen untuk melakukan perbaikan.

Lebih jauh, Sarwani mendorong perlunya evaluasi menyeluruh terhadap jaringan investasi Central Capital Ventura (CCV), termasuk portofolio yang berhubungan langsung dengan konsumen seperti OY! dan JULO. Ini penting untuk memastikan bahwa semua aspek investasi diperiksa secara menyeluruh.

Kemunculan berbagai sinyal masalah di beberapa portofolio investasi seharusnya tidak dianggap sebagai kebetulan. Ketika lebih dari satu perusahaan dalam portofolio yang sama menarik perhatian publik atau regulator, pertanyaan yang logis adalah apakah proses investasi dan pengawasan yang dilakukan oleh investor telah cukup memadai.

“Dalam konteks CCV, sangat penting untuk mengidentifikasi kapan tanda-tanda peringatan pertama kali terdeteksi, bagaimana informasi tersebut disampaikan ke komite investasi atau manajemen, serta langkah-langkah apa yang diambil selanjutnya,” ungkap Sarwani.

“Di tengah perhatian yang meningkat terhadap berbagai kasus yang melibatkan investor institusional lainnya, prinsip pengawasan yang konsisten seharusnya juga diterapkan pada CCV,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan tata kelola yang baik tidak hanya menjadi tanggung jawab startup, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama antara regulator dan investor.

    ➡️ Baca Juga: Aplikasi Viral yang Efektif untuk Meningkatkan Stabilitas Rutinitas Kerja Online Anda

    ➡️ Baca Juga: PM Israel Benjamin Netanyahu Kritik Inggris Sebagai “Republik Islam Britania”, London Marah Besar

    Related Articles

    Back to top button