happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

depo 10k depo 10k
berita

Opsi KM Virgo yang Ditanamkan: Penjelasan Resmi dari Basarnas

Jakarta – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sedang mempertimbangkan opsi untuk menenggelamkan KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa. Langkah ini diambil untuk mengatasi pergeseran posisi kapal, sehingga upaya pencarian 129 orang yang masih hilang dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa posisi kapal saat ini masih dapat berubah, mengingat kapal terbalik dan mengapung di permukaan. Pada tanggal 14 September 2026, diketahui bahwa bangkai kapal telah bergeser sekitar 2,9 kilometer atau 1,6 nautical mile dari lokasi awal kejadian.

Oleh karena itu, salah satu pilihan yang dipertimbangkan adalah membiarkan kapal tenggelam hingga mencapai dasar laut. Pendekatan ini dianggap dapat memberikan stabilitas pada posisi kapal, sehingga memudahkan proses pencarian.

“Menurut masukan dari rekan-rekan di TNI Angkatan Laut, membiarkan kapal tenggelam mungkin adalah solusi yang lebih baik, karena posisi kapal ini berada di daerah laut yang relatif dangkal, sekitar 30 meter,” ujar Mohammad Syafii kepada wartawan pada 15 September 2026.

Pilihan ini berkaitan erat dengan rencana pencarian yang dilakukan di bawah laut. Sebelumnya, Basarnas telah menyiapkan tim penyelam dari TNI AL dan Kopaska untuk mencari korban, baik di sekitar lokasi maupun di dalam kapal itu sendiri.

Namun, kondisi kapal yang terbalik dan masih bergerak memberikan risiko yang cukup tinggi bagi penyelam. Selain memilih untuk menenggelamkan kapal, Basarnas juga mempertimbangkan opsi untuk membalik posisi bangkai kapal yang saat ini terletak dalam keadaan tengkurap.

Syafii menyatakan bahwa membalik kapal bisa menjadi solusi yang efektif untuk mempermudah operasi pencarian sekaligus mengurangi risiko yang dihadapi oleh para penyelam.

“Jika kita memaksa menyelam dalam kondisi seperti ini, ada risiko tersendiri. Sebaiknya, operasi hanya dilakukan jika kapal berada dalam kondisi normal, seperti tenggelam karena kebocoran,” jelasnya.

“Dalam situasi kapal yang tengkurap, ketika tim penyelam masuk, tentu akan ada risiko yang lebih besar. Oleh karena itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi,” tambahnya.

Basarnas juga mendiskusikan opsi lainnya, yaitu menarik atau menggeser bangkai kapal ke lokasi tertentu. Namun, langkah ini tidak sederhana, mengingat ukuran dan berat kapal, serta kondisi cuaca yang belum mendukung.

    ➡️ Baca Juga: Status Amanda Rigby Sebelum Menikah dengan Andre Taulany, Ternyata Pernah…

    ➡️ Baca Juga: China Beralih dari Batu Bara Menuju Mobil Listrik yang Lebih Ramah Lingkungan

    Related Articles

    Back to top button