Cadangan Gas Inggris Terjun Bebas, Hanya Cukup untuk 1,5 Hari di Tengah Krisis Energi

Cadangan gas di Inggris mengalami penurunan yang signifikan, menciptakan kekhawatiran di tengah krisis energi yang melanda. Data terbaru dari National Gas, operator jaringan transmisi energi di Inggris, menunjukkan bahwa cadangan gas negara ini mengalami penurunan yang tajam dibandingkan dengan tahun lalu.
Sebelumnya, cadangan gas Inggris mencapai sekitar 18.000 gigawatt hour (GWh). Namun, saat ini angka tersebut merosot menjadi sekitar 6.700 GWh. Jumlah ini diperkirakan hanya dapat memenuhi kebutuhan gas nasional selama 1,5 hari, yang jelas sangat mengkhawatirkan.
Selain memiliki cadangan gas konvensional, Inggris juga menyimpan liquefied natural gas (LNG) di beberapa fasilitas penyimpanan. Sayangnya, volume LNG yang tersedia tidak jauh berbeda dan tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, yang biasanya mampu menyimpan gas untuk kebutuhan selama beberapa minggu.
Dengan cadangan yang terbatas ini, Inggris terpaksa bersaing lebih agresif di pasar energi global untuk mendapatkan pasokan gas. Pedagang energi pun terpaksa menaikkan harga, mengingat Inggris harus menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan negara lain agar dapat memperoleh pasokan yang dibutuhkan.
Akibatnya, harga gas grosir di Inggris saat ini tercatat sebagai yang tertinggi di Eropa. Dalam kondisi ini, Goldman Sachs, lembaga keuangan global, mengingatkan akan potensi lonjakan harga minyak dunia jika gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak segera teratasi.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga minyak bisa melampaui US$100 per barel, setara dengan sekitar Rp1.690.000, dalam waktu dekat jika tidak ada tanda-tanda perbaikan dalam pasokan. Hal ini diungkapkan dalam laporan yang dikutip dari Telegraph pada 9 Maret 2026.
Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa harga minyak olahan berpotensi melebihi rekor tertinggi sebelumnya jika gangguan distribusi pada jalur perdagangan energi utama terus berlanjut tanpa solusi yang jelas.
Kemungkinan besar, harga minyak, terutama untuk produk olahan, akan melampaui tingkat tertinggi yang tercatat pada tahun 2008 dan 2022 jika aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap tertekan sepanjang bulan Maret.
Lonjakan harga energi ini diperkirakan tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Ekonom dari University of Pennsylvania, Mohamed El-Erian, memperingatkan bahwa rumah tangga di Inggris akan menghadapi tekanan ekonomi dari berbagai sisi akibat fenomena ini.
➡️ Baca Juga: Mantan Istri Pratama Arhan, Azizah Salsha Dikecam Warganet karena Posting Foto di Pantai Saat Ramadhan
➡️ Baca Juga: Pelaku UMKM Manfaatkan MR untuk Pengalaman Virtual Produk



