BI Tingkatkan Operasi Moneter untuk Tanggapi Rupiah yang Melemah ke Rp17.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah tetap stabil di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga pagi ini. Pelemahan ini terjadi sejak awal pekan ini, dipicu oleh dampak dari ketegangan geopolitik global.
Sebagai respons terhadap situasi ini, Bank Indonesia (BI) memaksimalkan penggunaan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki serta mengimplementasikan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Di tengah tingginya ketidakpastian global, stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia,” ungkap Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam rilis resmi yang disampaikan di Jakarta pada Rabu, 8 April 2026.
Destry menjelaskan bahwa BI secara konsisten dan terukur berperan aktif di pasar uang, baik dalam transaksi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Dampak dari konflik di Timur Tengah bersifat ganda. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian, yang diharapkan mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar yang disebabkan oleh eskalasi konflik tersebut.
Pada penutupan perdagangan hari Selasa, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 70 poin atau 0,41 persen, menjadi Rp 17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat di Rp 16.980 per dolar AS. Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan, bergerak ke level Rp 17.092 per dolar AS dari sebelumnya di Rp 17.037 per dolar AS.
Menghadapi ketidakpastian global yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah, BI sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk menyesuaikan instrumen intervensi nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan tiga skenario dampak perang, yaitu jika harga minyak dunia berada pada level rendah, menengah, dan tinggi.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa upaya tersebut juga didukung dengan menjaga cadangan devisa serta respons kebijakan suku bunga. “Kami terus mengoptimalkan tiga instrumen intervensi moneter kami dengan memastikan kecukupan cadangan devisa dan memperkuatnya dengan kebijakan suku bunga,” jelas Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur secara daring di Jakarta pada Selasa, 17 Maret.
Bank sentral juga memandang pentingnya penguatan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk mengurangi dampak dari konflik di Timur Tengah. Berbagai langkah strategis untuk meningkatkan kinerja neraca pembayaran diharapkan dapat berkontribusi pada stabilitas nilai tukar rupiah yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Pasar Global Menghadapi Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia
➡️ Baca Juga: Pengalaman Basuki Hadimuljono Selama Setahun di IKN: Ragam Kuliner yang Menarik




