Geopolitik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak Penyebab Utama Pelemahan Rupiah

Jakarta – Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, memberikan penjelasan mengenai kondisi terkini nilai tukar rupiah.
Pada perdagangan di pasar spot pada hari Senin, 21 September 2026, hingga pukul 14.59 WIB, nilai tukar rupiah tercatat pada level Rp 17.847 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.758 per dolar AS.
Erwin mengungkapkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berkontribusi pada tingginya harga minyak yang tetap berada di atas US$100 per barel.
“Hal ini tentunya menambah risiko inflasi global serta memberikan tekanan pada proyeksi fiskal,” ungkap Erwin dalam keterangannya, di hari yang sama.
Dia menambahkan bahwa faktor lain yang turut memengaruhi nilai tukar adalah tingginya permintaan valuta asing dari importir dan keluarnya dana dari aset portofolio domestik.
Oleh karena itu, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus aktif di pasar, guna memastikan mekanisme pasar beroperasi dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental yang ada.
Langkah-langkah yang diambil termasuk pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang, serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.
“Termasuk juga memperkuat efektivitas dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai, dengan berbagai insentif yang diberikan,” tambah Erwin.
Di samping itu, Bank Indonesia akan terus melaksanakan intervensi secara konsisten, melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Hal ini juga termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selanjutnya, Erwin menyatakan bahwa koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar akan terus dilakukan secara intensif. Ini bertujuan untuk mendorong masuknya modal asing dengan memanfaatkan insentif yang telah ada, serta mendiversifikasi permintaan valuta asing melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Secara umum, pergerakan nilai tukar rupiah masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan, dengan penguatan sebesar 0,37 persen secara quarter-to-date (QTD). Selain itu, posisi cadangan devisa juga mengalami peningkatan menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
➡️ Baca Juga: Kemendagri Perintahkan Meta Hapus Video Viral Pria Injak Alquran untuk Menghindari Kontroversi
➡️ Baca Juga: 322 Individu Ditangkap Pasca Kerusuhan Usai Demo DPR, Termasuk Ratusan Anak di Bawah Umur




