Iran Tegaskan Keberlangsungan Sistem Kelistrikan di Tengah Serangan AS yang Meningkat

Pihak berwenang Iran sedang berupaya untuk meyakinkan masyarakat mengenai stabilitas sistem kelistrikan negara di tengah meningkatnya ancaman dari AS dan Israel untuk menyerang instalasi pembangkit listrik serta infrastruktur energi. Ancaman tersebut muncul bersamaan dengan ultimatum untuk membuka kembali Selat Hormuz pada tanggal 7 April 2026.
Ketidakpastian yang menyelimuti potensi konflik militer dan kemungkinan berlanjutnya peperangan telah mendorong pemerintah Iran untuk fokus memperkuat kapasitas sektor energi. Upaya ini bertujuan agar negara dapat bertahan menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi.
Iran juga telah memberikan peringatan kepada Amerika Serikat mengenai konsekuensi serius yang akan berdampak pada sektor energi dan ekonomi global jika terjadi serangan, sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kepada rekannya dari Prancis, Jean-Noel Barrot, pada malam Minggu kemarin.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang memperingatkan Iran untuk “membuka Selat Hormuz” pada hari Selasa, atau mereka akan “hidup di Neraka”, sambil mengancam untuk menyerang fasilitas-fasilitas listrik dan jembatan yang ada di negara itu.
Selat Hormuz, sebagai jalur perairan vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, telah efektif ditutup oleh Iran sebagai respons terhadap tindakan militer AS dan Israel. Iran bahkan telah meluncurkan serangan terhadap sejumlah kapal dagang di wilayah tersebut.
Penutupan jalur strategis ini telah berdampak signifikan, menyebabkan lonjakan harga minyak di pasar global dan memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi yang lebih luas di seluruh dunia.
Para pejabat dari sektor energi dan parlemen Iran menekankan bahwa jaringan kelistrikan di Teheran memiliki tingkat ketahanan yang tinggi, berkat keberagaman sumber energi dan distribusi pembangkit yang luas di seluruh wilayah negara.
Keberadaan jaringan listrik nasional yang saling terhubung juga memungkinkan manajemen krisis dan redistribusi daya secara efisien jika ada kerusakan pada fasilitas tertentu.
Reza Sepehvand, anggota komite energi dari parlemen Iran, mengungkapkan bahwa distribusi pembangkit listrik yang tersebar secara geografis, ditambah dengan koneksinya ke jaringan listrik yang terintegrasi, memberikan kemampuan lebih bagi otoritas untuk mengelola situasi krisis dengan lebih efektif.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun ada kerusakan pada sebagian kapasitas pembangkit listrik, negara ini tidak akan mengalami pemadaman listrik secara keseluruhan.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Iran menunjukkan komitmennya untuk menjaga keberlangsungan sistem kelistrikan negara meskipun di tengah ancaman yang terus meningkat dari luar. Keberadaan infrastruktur yang tangguh dan kebijakan yang proaktif merupakan fondasi penting dalam memastikan pasokan listrik tetap stabil dan aman bagi seluruh masyarakat.
➡️ Baca Juga: Daftar Harga Barang yang Berpotensi Meningkat Akibat Konflik Iran dan Israel-AS
➡️ Baca Juga: Gempa di Bogor, Belum Ada Laporan Bangunan Rusak




