AS Siap Melakukan Serangan Keras ke Iran Hingga Kembali ke Zaman Batu

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa militer AS akan melancarkan serangan terhadap Iran dengan intensitas yang sangat tinggi, bahkan mengancam akan membawa negara tersebut kembali ke kondisi primitif seperti zaman batu. Menurut Trump, semua tujuan militer yang ditetapkan pemerintahannya di Iran telah tercapai atau bahkan terlampaui.
Dalam pidatonya, Trump menyatakan, “Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan, membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada.” Pernyataan ini merujuk pada sikap agresif AS terhadap Iran yang bisa memicu ketegangan lebih lanjut di kawasan tersebut.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut memperkuat pernyataan Trump dengan unggahan di media sosial yang singkat namun tajam: “Kembali ke Zaman Batu.” Unggahan ini menekankan nada yang sama dengan retorika Trump, menunjukkan keseriusan dari ancaman yang dilontarkan.
Istilah “kembali ke Zaman Batu” sering kali digunakan untuk menggambarkan tindakan militer yang sangat destruktif, di mana pemboman dilakukan secara besar-besaran untuk menghancurkan semua aspek infrastruktur modern sebuah negara hingga mencapai keadaan yang sangat primitif. Ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Iran.
Dalam pidatonya, Trump tidak menyentuh aspek negosiasi dengan Iran. Selain itu, ia juga tidak mengisyaratkan batas waktu terbaru yang ditetapkan pada 6 April untuk Iran agar membuka Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi transportasi minyak dan gas global. Ia sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika jalur tersebut tetap ditutup.
Trump juga mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari aliansi NATO, yang menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Pernyataan ini menambah dimensi baru pada konflik yang sudah ada, menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas politik di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Trump tidak memberikan solusi yang jelas untuk mengatasi gangguan pasokan energi yang telah menyebabkan lonjakan harga di seluruh dunia. Dalam pernyataannya, ia bahkan menyarankan negara-negara yang biasanya bergantung pada pasokan melalui Selat Hormuz untuk “mengambilnya sendiri,” yang menciptakan potensi konflik lebih lanjut.
Sebagai dampak dari komentar Trump, harga minyak melonjak lebih dari 7%, sementara pasar saham di Asia dan Eropa mengalami penurunan. Harga bensin di AS melampaui rata-rata $4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022, yang berujung pada peningkatan biaya pangan secara global akibat lonjakan harga bahan bakar.
Konflik yang sedang berlangsung di Iran dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel meluncurkan serangan. Teheran pun membalas dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk, menunjukkan bahwa ketegangan ini telah berkembang menjadi konflik berskala lebih besar.
Sejauh ini, lebih dari 2.000 warga Iran dilaporkan telah tewas dalam konflik ini. Selain itu, ribuan fasilitas sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, universitas, dan pabrik farmasi, telah menjadi target serangan oleh Israel dan AS, memperlihatkan dampak tragis dari konflik ini terhadap masyarakat sipil.
➡️ Baca Juga: Banggar dan Kepala BGN Gelar Rapat di DPR untuk Bahas Pelaksanaan Program MBG
➡️ Baca Juga: Carrick Mengomentari Panggilan Timnas Inggris untuk Harry Maguire dan Kobbie Mainoo




