Grand Mufti Arab Saudi Serukan Tentara Siap Korbankan Nyawa Hadapi Houthi

Otoritas keagamaan tertinggi di Arab Saudi mengeluarkan seruan tegas kepada tentara kerajaan untuk bersiap mengorbankan nyawa mereka dalam menghadapi ancaman dari kelompok Houthi. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita pemerintah, menandakan komitmen yang kuat untuk menumpas kekuasaan kelompok tersebut.
Mufti Agung Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Fawzan Al-Fawzan, menjadi sosok yang menyampaikan pesan penting ini. Dalam pernyataannya yang ditujukan kepada para prajurit yang bertugas di wilayah perbatasan, beliau mengutip berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad yang menekankan pentingnya pengorbanan dan perjuangan untuk membela agama.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan kekerasan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi. Dalam beberapa minggu terakhir, Houthi yang mendapatkan dukungan dari Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi, yang kemudian dibalas dengan serangan udara oleh pasukan Saudi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan Arab Saudi akan melaksanakan operasi militer yang lebih besar, bersinergi dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukungnya untuk menghadapi Houthi.
“Melindungi negara yang besar ini dan menghukum siapa pun yang berusaha menyentuh bahkan sejengkal wilayahnya merupakan salah satu kewajiban utama dan bentuk ibadah yang sangat penting. Untuk itu, nyawa dan jiwa dapat dikorbankan demi mencari keridhaan Allah,” demikian isi pernyataan resmi yang dilansir oleh Reuters pada 26 September 2026.
Dalam pernyataan tersebut, juga disampaikan bahwa mengembalikan kekuasaan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi di seluruh wilayah negara itu adalah salah satu tanggung jawab yang paling mendesak saat ini.
Kehilangan kendali atas jalur perairan strategis Bab el-Mandeb oleh pasukan pemerintah Yaman dua minggu lalu menjadi pukulan berat bagi Arab Saudi, yang telah terlibat dalam konflik ini sejak tahun 2015. Operasi militer yang dilakukan Saudi untuk menggulingkan Houthi dari ibu kota Yaman, Sanaa, belum mencapai hasil yang diharapkan.
Pertempuran terbaru ini merupakan bagian dari konflik saudara di Yaman yang telah berlangsung selama lebih dari 12 tahun. Meskipun situasi sempat mereda sejak tahun 2022, ketegangan kembali meningkat, sejalan dengan dinamika konflik yang lebih luas antara Iran dan negara-negara lain di kawasan tersebut.
➡️ Baca Juga: Keputusan Strategis Barcelona yang Membuat Raphinha Semakin Tajam di Lapangan
➡️ Baca Juga: Purbaya Ramai Disorot Pasca Dicopot dari Menkeu, Apa yang Terjadi?




