Trump Siap Lakukan Serangan Besar ke Iran Jika Tidak Mematuhi Kesepakatan

Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan tegas mengenai kemungkinan serangan yang jauh lebih besar dan lebih kuat terhadap Iran jika negara itu tidak mematuhi apa yang ia sebut sebagai kesepakatan nyata mengenai gencatan senjata.
Trump menegaskan bahwa semua kapal, pesawat, dan personel militer Amerika Serikat, beserta tambahan amunisi dan peralatan yang diperlukan, akan tetap berada di dekat Iran. Hal ini bertujuan untuk melanjutkan operasi penghancuran terhadap musuh yang dianggap telah sangat melemah, sampai kesepakatan yang sesungguhnya benar-benar dilaksanakan.
Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan bahwa, bertentangan dengan berbagai rumor yang beredar, telah ada kesepakatan lama yang menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan bahwa Selat Hormuz harus tetap aman serta terbuka untuk pelayaran. Ia juga menambahkan bahwa militer AS kini dalam keadaan siaga dan siap untuk menjalankan misi berikutnya.
Meskipun detail mengenai kesepakatan yang dimaksud belum diungkapkan, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa hak Iran untuk memperkaya uranium merupakan bagian integral dari proposal sepuluh poin yang diajukan oleh Iran.
Trump sebelumnya menganggap proposal sepuluh poin dari Iran sebagai dasar untuk negosiasi, meskipun belum jelas versi mana yang ia rujuk dalam pernyataannya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa perlindungan hak Iran untuk memperkaya uranium harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap diskusi mengenai gencatan senjata.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa isu pengayaan uranium adalah garis merah yang tidak akan dilanggar oleh Presiden.
Masalah ini diperkirakan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan antara tim negosiator AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, bersama menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan Timur Tengah, Steve Witkoff, dengan pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu waktu setempat.
Pernyataan terbaru dari Presiden AS ini muncul di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh, yang telah berlangsung selama dua minggu dan disepakati sebelum batas waktu yang ditentukan Trump pada 7 April. Ketegangan di kawasan meningkat, terutama terkait situasi di Selat Hormuz dan serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Kaji Sistem ‘War Tiket’ Haji untuk Menghindari Antrean, Simak Aturannya
➡️ Baca Juga: Raket Badminton Ringan Terbaik untuk Pemain Pemula agar Tangan Tetap Bugar dan Tidak Lelah




