IHSG Turun 2,59 Persen ke 6.936, Harga Minyak Capai US$100 dan Tekanan Isu MSCI

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Ketidakpastian yang melanda situasi geopolitik serta kondisi ekonomi global menjadi salah satu pendorong melemahnya pasar saham domestik, di tengah lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran terhadap arus modal asing.
IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 157,61 poin atau 2,59 persen, mencapai level 6.936,15. Indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami penurunan, terkoreksi 10,77 poin atau 1,79 persen hingga berada di posisi 690,90.
Sepanjang perdagangan, tekanan pasar cukup terlihat jelas. Meskipun IHSG sempat dibuka dengan penguatan, indeks ini berbalik arah dan jatuh ke zona negatif hingga akhir sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG tetap terjebak di zona merah sampai perdagangan ditutup.
Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan jual yang signifikan di pasar saham Indonesia, di mana para pelaku pasar sedang mempertimbangkan berbagai sentimen yang datang dari faktor eksternal dan domestik.
Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, beberapa faktor global masih mempengaruhi pergerakan IHSG. Salah satu di antaranya adalah harga minyak mentah Brent yang tetap berada di atas US$100 per barel.
“Sentimen negatif yang ada di pasar disebabkan oleh ketidakpastian global yang masih tinggi, harga minyak Brent yang stabil di atas 100 dolar AS per barel, kekhawatiran akan potensi keluarnya modal dari pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu seputar MSCI,” jelas Ratna dalam analisisnya di Jakarta pada 12 Oktober 2026.
Harga minyak yang bertahan di kisaran US$100 per barel menjadi perhatian utama para pelaku pasar, terutama di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu. Pergerakan harga energi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan investor dalam membuat keputusan investasi.
Selain itu, kekhawatiran akan potensi arus keluar modal dari pasar obligasi Indonesia juga menambah beban bagi pasar. Investor pun terus memantau berbagai isu terkait MSCI yang menjadi pertimbangan penting dalam investasi di pasar saham.
Gabungan berbagai sentimen ini membuat para pelaku pasar menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah investasi, terutama di saat risiko geopolitik dan dinamika ekonomi global masih sangat tinggi.
➡️ Baca Juga: Tiga Pelaku Penganiayaan Ditangkap Polda Metro Usai Konfrontasi Kasus TPKS
➡️ Baca Juga: Longsor di Deliserdang Akibatkan Lima Warga Tewas dan Satu Terluka Parah



